iCare Manna
Never Thirst!
SAMARIA, PERJALANAN YANG SEPI
Story
Kisah Seorang Anak Sekolah
Seorang anak kecil ditolak oleh teman-teman dan para guru di sekolahnya. Penampilannya sangat jorok, wajahnya tanpa ekspresi, tidak menarik, lambat. Sering kali ia hanya duduk di kelas, dengan pandangan kosong, tidak memberikan respon apa-apa, dan hal ini sangat menjengkelkan gurunya. Bu Dina, gurunya, sangat menikmati saat pena merah-nya menuliskan X besar warna merah di kertas Rudi yang selalu banyak salahnya.
Jika saja ia mempelajari rapor Rudi lebih teliti, tertulis:
Kelas 1: Rudi menampakkan peningkatan dalam tingkah laku dan sikap, tetapi keluarganya berantakan
Kelas 2: Rudi sebenarnya bisa lebih baik. Ibunya sakit keras. Tak ada yang membantu Rudi di rumah..
Kelas 3: Rudi anak yang baik, tetapi terlalu serius. Rudi lambat dalam belajar. Ibunya meninggal tahun ini.
Kelas 4: Rudi sangat lambat, tetapi tingkah lakunya baik. Ayahnya sama sekali tidak peduli pada kehidupan Rudi.
Natal tiba, murid-murid meletakkan hadiah-hadiah yang dibungkus dengan sangat indah di meja untuk guru mereka. Rudi membawa satu hadiah juga. Dibungkus dengan kertas coklat kasar dengan selotip seadanya.
Bu Dina membuka setiap hadiah itu, dan anak-anak berdesak-desakan di sekitar meja untuk melihat. Dari hadiah Rudi jatuh sebuah gelang indah yang setengah dari batu permatanya telah hilang, dan sebuah botol minyak wangi murahan. Anak-anak yang lain mulai mengejek, tetapi Bu Dina membuat mereka terdiam dengan cara menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya dan menyodorkan pada anak-anak tersebut untuk menciumnya. Ia mengenakan gelang pemberian Rudi juga. Di akhir pelajaran, setelah semua anak pulang, Rudi menghampiri meja guru dan berkata, Bu Dina, bau Anda persis seperti mama saya. Dan gelang itu terlihat sangat indah ditanganmu. Saya senang Ibu menyukai pemberian saya. Ia pergi.
Bu Dina berlutut dan meminta pengampunan Allah, dan berdoa agar Allah mengubah hatinya. Hari berikutnya, anak-anak diajar oleh seorang guru yang telah berubah seseorang yang membuat komitmen untuk mengasihi setiap anak. Terutama yang lambat. Terutama Rudi.
Sangat mengejutkan atau mungkin, tidak mengejutkanbahwa Rudi menunjukan peningkatan yang besar. Ia berhasil mengejar ketinggalan dan berada di atas sebagian besar murid lain. Bu Dina tidak mendengar apapun dari Rudi cukup lama. Hingga tiba-tiba ia menerima surat singkat ini:
Yth. Bu Dina:
Saya ingin Anda yang pertama kali tahu, bahwa saya juara dua di kelas.
Salam Hormat, Rudi.
Empat tahun kemudian, sepucuk surat singkat datang lagi:
Yth. Bu Dina:
Mereka memberi tahu saya bahwa saya juara satu di kelas. Saya ingin Anda yang pertama kali mengetahuinya. Universitas ini tidak mudah, tetapi saya menyukainya.
Salam Hormat, Rudi.
Dan empat tahun kemudian:
Yth. Bu Dina:
Hari ini, saya Dr. Rudi Kusuma. Keren kan? Saya ingin Anda yang pertama kali mengetahuinya. Saya akan menikah bulan depan, tanggal 27 tepatnya. Saya ingin Anda datang dan duduk di kursi tempat ibu saya duduk bila ia masih hidup. Anda satu-satunya keluarga yang saya miliki saat ini. Ayah meninggal tahun lalu.
Salam Hormat, Rudi.
Bu Dina menghadiri pernikahan dan duduk di kursi di tempat ibu Rudi seharusnya duduk.
Truth that Sets You Free
Setiap hari kita berjumpa dengan orang-orang seperti Rudi, tidak menarik, tidak diinginkan, dan tidak dipedulikan, seperti seorang perempuan Samaria yang berjumpa dengan Yesus. Orang lain mungkin tidak peduli padanya, tetapi Yesus peduli.
Orang Samaria adalah campuran antara orang Yahudi dan orang non-Yahudi yang berasal dari 10 suku Israel yang ditawan oleh orang Asiria. Mereka ditolak oleh orang Yahudi karena orang Samaria tidak dapat membuktikan asal usul nenek moyang mereka. Orang Samaria membangun tempat ibadah mereka sendiri dan berbakti di gunung Gerizim. Hal ini menambah kebencian orang Yahudi pada mereka. Begitu parahnya sehingga beberapa orang Farisi berdoa agar tidak ada orang Samaria yang dibangkitkan! Dan ketika musuh-musuh Yesus ingin mengejek-Nya, mereka memanggil Yesus orang Samaria (Yoh. 8:48)
Yesus menegor murid-murid-Nya atas kebencian mereka terhadapat orang Samaria (Luk. 9:55-56), selain itu Ia:
- Menyembuhkan orang Samaria yang sakit kusta (Luk. 17:16)
- Mengunakan orang Samaria sebagai contoh kebaikan (Luk. 1;:30-37)
- Memuji orang Samaria karena rasa terima kasihnya (Luk. 17:11-18)
- Meminta minum dari seorang wanita Samaria (Yoh. 4:7)
- Mengajar orang Samaria (Yoh. 4:40-42)
- Menantang murid-murid-Nya untuk bersaksi ke Samaria (Kis. 1:8)
1. TINGGALKAN COMFORT ZONE (Yoh. 4:1-6)
Sebenarnya bisa saja Yesus melakukan perjalanan tanpa melewati Samaria, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang Yahudi saat itu. Walaupun rutenya lebih panjang, mereka lebih memilih rute itu demi menghindari bertemu dengan orang Samaria. Tetapi Ia meninggalkan kenyamanan itu. Tinggalkan kenyamanan atau comfort zone Anda. Memang kadang lebih mudah untuk bergaul dengan orang-orang yang seperti kita atau teman-teman dalam lingkungan kita sendiri, tetapi kita perlu mencontoh Yesus pergi menjumpai dan menjangkau orang-orang dari lingkungan lain, suku lain, bahkan mereka yang tersisih.
a. KESEMPATAN di Jalan yang Sepi
b. Perintah untuk PERGI Bukan MENUNGGU
2. BERILAH AKU MINUM (Yoh. 4:7-15)
Air merupakan kebutuhan dasar untuk hidup. Orang bisa hidup satu bulan tanpa makanan, tetapi tidak dapat hidup satu bulan tanpa air. Air atau dalam bahasa aslinya hdor selain memang berupa air secara fisik, juga menggambarkan kehidupan. Air membuat tanaman tumbuh dan menjadi makanan bagi manusia. Di dalam budaya tertentu, air memegang peranan penting, contohnya orang Mesir menyembah dewa sungai Nil dan memberikan air pada orang mati karena mereka percaya hal ini akan membuat mereka hidup di kehidupan yang lain. Air juga dianggap membersihkan dan menyucikan.
Dalam Perjanjian Lama kehausan akan Allah digambarkan seperti seorang yang haus akan air (Maz. 42:1; Yes. 55:1; Yer. 2:13, Zak 13:1). Allah digambarkan sebagai fountain of life (Maz. 36:9) yang diterjemahakan sebagai sumber hayat dalam bahasa Indonesia. Allah juga sumber air yang hidup (Yer. 17:13). Ketika Yesus berkata bahwa Ia memiliki air hidup, ia menyatakan pada perempuan Samaria tersebut bahwa hanya melalui Yesus, seseorang dapat memenuhi kehausan jiwanya, bukan lima atau lebih laki-laki yang dikencani oleh perempuan Samaria tersebut.
Banyak orang seperti perempuan Samaria itu berteriak pada Anda dan saya, Berikanlah berikanlah aku air itu. Dalam diri setiap orang, selalu ada kehausan yang hanya dapat dipenuhi bila Ia berjumpa dengan Sang Pencipta. Tugas kita adalah menawarkan Yesus sebagai air hidup yang akan menolong mereka.
3. MENGHANCURKAN BATASAN-BATASAN (Yoh. 4:16-30)
Pukul dua belas siang merupakan saat yang tidak nyaman untuk keluar rumah karena panas terik. Apalagi biasanya sumur terletak sedikit di luar kota, di sepanjang jalan utama. Dua kali sehari, pagi dan malam, para wanita datang untuk menimba air. Tetapi perempuan itu keluar rumah untuk menimba air tepat tengah hari mungkin karena ia menghindari untuk bertemu orang lain. Ia adalah seorang yang dikucilkan, menjadi bahan omongan, bahkan mungkin dibenci karena gaya hidupnya yang tidak bermoral. Ia memiliki lima suami, dan tinggal bersama dengan pria yang bukan suaminya (Yoh. 4:18)
Wanita itu berasal dari Samaria, suku yang dibenci. Ia hidup dalam dosa, dan saat itu ia sedang berada di tempat umum. Tidak ada orang Yahudi terhormat yang mau terlihat berbicara dengan seorang wanita Samaria. Apalagi sebagai seorang rabi Yahudi seperti Yesus, sebenarnya tidak diperkenankan untuk berbicara dengan wanita di jalanan, karena saat itu budaya mengatakan bahwa pembicaraan dengan wanita akan menghalangi seseorang untuk mempelajari Taurat.
Tetapi Yesus berbicara padanya. Injil adalah untuk setiap orang, tidak peduli ia berasal dari bangsa apa, apa posisi sosialnya, maupun berapa besar dosanya. Yesus melewati semua batasan untuk mengabarkan Injil. Demikian pula kita patut mencontoh-Nya.