iCare Manna

Give Us Bread

SUDAH DISEDIAKAN

Joh 6:15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Joh 6:16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu

Joh 6:17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka,

Joh 6:18 sedang laut bergelora karena angin kencang.

Joh 6:19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka.

Joh 6:20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!"

Joh 6:21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Joh 6:22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat.

Joh 6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.

Joh 6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Joh 6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"

Joh 6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Joh 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Joh 6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"

Joh 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Joh 6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

Joh 6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Joh 6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Joh 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Joh 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."

Joh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

HARGA MATERIALISME YANG MAHAL

Hidup pada dasarnya adalah sederhana. Tetapi orang membuatnya menjadi sangat kompleks dengan berbagai keinginan mereka. Setiap hari kita dibombardir oleh iklan-iklan yang menawarkan hal-hal yang perlu kita miliki. Kalau Anda memakai parfum ini, maka dijamin puluhan cewe mengantri untuk berkenalan dengan Anda. Kalau Anda membeli mobil merek ini, pasti percaya diri Anda akan bertambah tinggi. Kalau Anda memakai kosmetik ini maka dijamin Anda tampak 10 tahun lebih muda. Kalau Anda… Kalau Anda… dst. Tidak sedikit orang yang bekerja keras, kemudian menghamburkan uangnya untuk hal-hal yang ia pikir ia perlukan untuk hidup, padahal sebenarnya hal itu hanya semu atau sementara. Apa yang sebenarnya kita perlukan dalam hidup?

Dalam bukunya The High Price of Materialism, profesor psikologi di Knox College di Galesburg, Illinois menulis tentang temuan ilmiahnya bahwa budaya kontemporer materialisme dan konsumerisme telah mempengaruhi kebahagiaan dan kesehatan psikologi seseorang. Orang yang nilai hidupnya berfokus pada mengumpulkan kekayaan atau materi, memiliki resiko lebih tinggi dalam ketidakbahagiaan, kekuatiran, depresi, percaya diri rendah, dan intimasi. Ia menunjukkan bahwa fokus pada materialisme telah meningkatkan rasa tidak aman, melemahkan hubungan antar manusia, bahkan membuat orang lebih terikat dan tidak bebas. Dalam penelitian lain bersama rekannya, Kirk Warren Brown dari Virginia Commonwealth University, ia meneliti 200 orang yang melakukan kehidupan sederhana, dibandingan dengan 200 orang Amerika rata-rata. Walaupun orang yang melakukan kehidupan sederhana pendapatannya $ 15,000 di bawah kelompok satunya, tetapi mereka lebih berbahagia. Kesimpulannya, kehidupan bukanlah terdiri dari apa yang kita ingin kita miliki.

Live simply that others might simply live. 
(Elizabeth Seton) 


1. Melihat MUJIZAT atau MAKANAN? (Yoh. 6:15-26)
Joh 6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Murid-murid terkesan dengan banyaknya orang yang mencari Yesus. Tetapi Yesus tidak terkesan, karena Ia tahu apa yang menyebabkan orang banyak itu mencari Dia (Yoh. 6:26). Mungkin awalnya memang mereka tertarik untuk mendengarkan apa yang Yesus sampaikan. Tetapi lama-kelamaan berubah untuk sekedar memenuhi rasa kenyang. Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab untuk setiap orang, untuk apa kita hidup dan bekerja. Apakah hanya sekedar memenuhi kebutuhan “perut” semata? Lebih jauh dan lebih tajam, kita perlu menjawab pertanyaan untuk apakah kita mengikut Yesus? Apakah untuk alasan yang sama dengan yang dimiliki oleh orang banyak itu? Mudah-mudahan tidak!

Dalam banyak hal di dunia ini, Allah menanamkan nilai-nilai spiritual yang indah dan berarti, tetapi manusia memotongnya menjadi urusan lahiriah semata. Pekerjaan untuk berkreasi dan menambah nilai, menjadi sekedar sebuah alat untuk mencari uang. Keintiman dan cinta menjadi sekedar seks pemuas nafsu. Yesus menyatakan sebuah mujizat ketika Ia memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan, tetapi orang-orang melihatnya hanya sebatas makan kenyang…!

2. Mendapatkan MAKANAN atau KEHIDUPAN? (Yoh. 6:27)
Joh 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Yes 55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

Ada “makanan” yang lebih penting dari sekedar pengisi perut. Yesus, dalam kasih-Nya yang besar, mengerti bahwa orang mencari Dia karena Ia memberikan makanan, tetapi Ia tahu juga, bahwa mereka membutuhkan “makanan” untuk mengisi roh mereka. Karena itu, Ia mengambil waktu untuk mengajar mereka.

Yesus menunjukkan bahwa ada dua macam makanan: makanan untuk tubuh, walaupun perlu tetapi bukan yang terpenting, dan makanan untuk roh seseorang, inilah yang paling mendasar. Yesus dapat melihat bahwa apa yang mereka perlukan bukanlah MAKANAN tetapi KEHIDUPAN. Makanan memang MEMPERTAHANKAN kehidupan seseorang, tetapi Yesus MEMBERIKAN kehidupan.

Dalam terjemahan NLV, ditulis seharusnya kita tidak perlu terlalu memikirkan atau mengkhawatirkan hal-hal yang akan membusuk, seperti makanan. Tetapi seharusnya kita menginvestasikan energi kita untuk mencari kehidupan kekal yang hanya dapat diberikan oleh Yesus:

But you shouldn’t be so concerned about perishable things like food. Spend your energy seeking the eternal life that I, the Son of Man, can give you. For God the Father has sent me for that very purpose.” (Yoh. 6:27, NLV)

Makanan memang mempertahankan kehidupan seseorang
tetapi Yesus memberikan kehidupan.


3. PERCAYA bukan BEKERJA (Yoh. 6:28-29)
Joh 6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"

Joh 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Joh 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Joh 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."

Joh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Orang banyak bertanya pada Yesus, apa yang harus mereka PERBUAT, tetapi Yesus menjawab, bahwa bukan perbuatan yang dikehendaki Allah, melainkan PERCAYA pada Yesus yang di utus Allah. Banyak orang berpikir bahwa ensensi kehidupan selain materi, adalah bekerja untuk mencapai prestasi, kedudukan, kepuasan diri, dll. Harga diri, atau pengenalan diri mereka ditentukan oleh pekerjaan mereka. Bekerja memang penting, tetapi hidup kita lebih dari sekedar bekerja. Yesus mengembalikan pandangan orang banyak bahwa kehidupan ini tidak dipertahankan oleh pekerjaan kita, melainkan kepercayaan kita pada Allah. Satu hal lain yang Yesus nyatakan, bahwa Ia adalah roti dari sorga yang akan memberi kehidupan bagi manusia. Sebenarnya Allah telah menyederhanakan kehidupan kita, yaitu dengan PERCAYA pada YESUS sang Roti Hidup.

Besides the noble art of getting things done,
there is the noble art of leaving things undone. 
The wisdom of life consists in the elimination of non-essentials.
(Lin Yutang)


4. DAPATKAN SUMBERNYA
Joh 6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

Joh 6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Joh 6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Joh 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Joh 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."

Joh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Urusan kehidupan bukanlah soal makanan/materi (Yoh. 6:26) bukan juga pekerjaan (“Apa yang harus kami lakukan…” Yoh. 6:29). Allah sebenarnya telah menyediakan hal-hal yang mendasar yang cukup untuk kita hidup, yaitu percaya pada Yesus sebagai Roti Hidup yang akan menjaga kelangsungan hidup kita (Yoh. 6:34). Ia adalah sumber hidup kita. Saat kita mendapatkan Dia, kita memiliki segala yang kita perlukan untuk hidup. Tetapi orang membuat kehidupan ini menjadi sangat kompleks dengan daftar keinginan mereka yang tak kunjung habis.

Yesus cukup untuk hidup Anda,
seberapapun harta yang Anda miliki.


Di Jepang, di mana lahan sangat terbatas dan mahal, sebuah keluarga biasa tinggal di apartemen yang hanya terdiri dari dua atau tiga ruang kecil saja. Di siang hari ruang itu menjadi ruang kerja atau ruang belajar, bila waktu makan tiba, meja dikeluarkan dan ruang itu menjadi ruang makan. Setelah meja makan disingkirkan, giliran kasur yang digelar, dan ruang itu menjadi ruang tidur. Bila seseorang membeli barang, maka ruang geraknya akan menjadi semakin kecil dan terbatas. Jadi setiap kali ingin membeli sesuatu, pertanyaan yang harus dijawab adalah “Dapatkah saya hidup tanpa barang ini?” dan bukan “Apakah saya ingin barang ini?” Dengan demikian gaya hidup seseorang juga harus berubah, bukan lagi “Barang apa yang dapat memenuhi ruang kosong ini?” melainkan “Apa yang saya dapat hilangkan, tetapi tetap membuat saya hidup dengan puas?”

Sebenarnya, dalam hidup ini, kita akan banyak tertolong bila menerapkan pertanyaan itu, “Apakah yang saya dapat hilangkan dari hidup saya, tanpa mengurangi arti hidup saya?” Hal ini tidak hanya mengenai barang/materi, melainkan juga mengenai waktu, kegiatan, hubungan dll.

Kehidupan yang sederhana berarti menghilangkan banyak hal yang tidak perlu, sehingga Anda bisa bersama dengan orang-orang yang Anda kasihi, melakukan hal-hal yang Anda perlu lakukan, dan hanya memiliki barang-barang yang memang berguna/berharga bagi Anda. Kesederhanaan adalah hidup dengan isi koper yang cukup untuk perjalanan Anda.

Simplicity is making the journey of this life with just baggage enough.
(Author Unknown)