iCare Manna

Generosity

MURAH HATI TERHADAP SESAMA

Mat 5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
Mat 5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
Mat 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Satu Bulan yang Berharga

Kisah berikut ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang sukarelawan World Harvest di Aceh sesaat setelah tsunami melanda Aceh di akhir 2004 yang lalu.

Ibu itu sedang naik motornya, melewati saya, ketika tiba-tiba saja ia berhenti dan melambaikan tangannya pada saya untuk datang mendekat.

”Hallo, nama saya Nurhayati, saya 40 tahun, dan saya perlu bantuanmu. Apa kamu seorang psikolog? Dapatkah kamu memberitahu apa yang harus saya lakukan?”

Saya sama sekali tidak mengenalnya, dan ia juga tidak mengenal saya. Tetapi mungkin ia melihat saya dalam seragam World Harvest dan wajah saya bukan seperti orang lokal, sehingga ia memberanikan diri untuk berbicara pada saya.

”Saya kehilangan 3 anak karena tsunami Muhammad Iqbal (14th), Muhammad Rizqan (10th), Muhammad Afdhal (3th). Saya juga kehilangan saudari saya dan suaminya, 4 keponakan saya, dan ibu saya. Jadi saya kehilangan 10 keluarga saya...”

Dapatkah kamu beritahu apa yang harus saya lakukan?

“Saya tidak dapat kembai ke rumah saya di Lampaya. Kenangan terhadap anak-anak saya di sana sungguh merobek hati saya. Tetapi suami saya tidak mengerti apa yang saya rasakan. Ia memaksa saya untuk kembali ke rumah itu, saya tidak bisa… saya takut… saya benar-benar tidak sanggup.

Dapatkah kamu beritahu apa yang harus saya lakukan?

Saya tidak mau menceraikan suami saya… walaupun ada orang yang menyarankan demikian. Kalau saja suami saya yang meninggal dan anak-anak saya masih hidup, mungkin saya akan pulang ke rumah… karena saya mengasihi anak-anak saya lebih dari suami saya…

Dapatkah kamu beritahu apa yang harus saya lakukan?

Saya tidak tahu saya masih bisa hamil atau tidak di usia sekarang ini, tetapi bila saya harus kehilangan anak saya lagi… saya tidak sanggup! Bahkan saya sudah ke Jakarta mencari anak saya dengan pergi ke stasiun TV dan melihat semua potongan siaran mereka... Saya akan terus mencari sampai hati saya lega...

Dapatkah kamu beritahu apa yang harus saya lakukan?

Kalau saja suami saya bersedia hidup di tenda dengan saya untuk beberapa bulan lamanya... sampai saya cukup kuat untuk kembali...

Selama pembicaraan ini, Ibu Nurhayati terus-menerus menangis. Hari demi hari berlalu dan saya terus membina persahabatan dengannya. Saya dengarkan ceritanya, mengunjunginya secara teratur, makan siang bersamanya di tenda. Hingga suatu hari ia datang dan berkata, “Maukah kamu datang ke rumah saya?” Saya melihat padanya dengan tersenyum, “Boleh saja.” Rumah itu bersih dan rapi, seolah ia sedang memulai sesuatu yang baru. Ia berkata bahwa berhari-hari ia bekerja untuk mencuci sofa dan gorden, namun demikian ia belum berani mendekati ruang tidur anak-anaknya dan memilih untuk tidur di belakang. Satu bulan di Aceh berlalu sudah, dan saya kembali ke Jakarta. Tetapi persahabatan kami terus berlanjut melalui SMS-SMS-nya pada saya. Kini ia telah kembali mengajar, berusaha membangun kembali hidupnya yang dilanda tsunami

BENIH KEBENARAN

Murah hati tidak hanya membagi secara keuangan, tetapi juga memberi waktu untuk melayani dan mendengarkan orang lain seperti kisah di atas. Kemurahan hati didefinisikan juga sebagai kemampuan untuk bergerak di luar batasan diri sendiri, memberi dengan bebas dan berbagi dengan rela. Dunia ini menawarkan segala macam kesenangan bagi kita – kenyamanan materi, makanan siap saji, pelayanan terbaik di bank, mal, supermarket dll – sehingga kita terbiasa dilayani, dan bila tidak berhati-hati, kita dapat memiliki sikap yang “menuntut” bukan “memberi.” Padahal, sebenarnya manusia diciptakan untuk saling berbagi. Hal ini diakui oleh ilmuwan ahli syaraf dari National Institues of Health yang menyatakan bahwa dalam penelitian mereka, mereka temukan bahwa otak sudah dikondisikan untuk murah hati. Saat manusia bermurah hati dan mendahulukan kepentingan orang lain, maka bagian otak tertentu yang biasanya memberikan respon untuk makanan atau sex, mengeluarkan rasa nyaman. Jadi, bermurah hati bukanlah hasil dari pendidikan moral, melainkan sudah ditanamkan dalam otak manusia1. Bagaimana cara kita bermurah hati?

Kemurahan hati didefinisikan juga sebagai kemampuan untuk bergerak di luar batasan diri sendiri, memberi dengan bebas dan berbagi dengan rela.

1. Murah Hati dengan Talenta dan Waktu Anda
Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Mat. 10:7-8)

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? (Maz. 116:12)

Kadang orang merasa sombong dengan talenta atau kepandaian yang ia miliki, padahal hal itu adalah pemberian dari Allah, dan mereka tidak melakukan apa-apa untuk “berhak” mendapatkan hal itu. Allah memberikan berbagai talenta, karunia rohani dan bakat pada kita dengan cuma-cuma. Karena itu, kita diminta untuk membagikannya dengan cuma-cuma pula, yaitu dengan melayani atau menjadi volunteer (sukarelawan).

Volunteers are seldom paid; not because they are worthless
but because they are PRICELESS!
(Jana Baker)


Banyak hal yang dapat Anda lakukan:
- Berikan beberapa jam seminggu membantu di kantor gereja atau di organisasi yang Anda pilih.
- Beri les pelajaran di komunitas-komunitas kumuh, untuk anak-anak yang membutuhkan tetapi tidak dapat membayar biaya les.
- Praktekkan karunia rohani Anda dengan mengajar di gereja, memimpin kelompok sel, mengunjungi dan mendoakan orang sakit, dll.
- Berikan keahlian dan profesi Anda untuk pelayanan, baik itu mengatur jaringan komputer, fotografi, mengatur keuangan, dll.

When you volunteer it means you give yourself
without any regression,
without any condition,
but with full devotion…
(Faith Tomquin)



2. Murah Hati dengan Hidup Anda
Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya (Luk. 18:22-23)

Ada orang-orang yang merasakan panggilan Allah dalam hidup mereka untuk melayani, tetapi keterikatan dengan dunia ini (materi, karir, hubungan cinta, dll) membuat mereka melewatkan kesempatan untuk melayani. Komitmen untuk melayani butuh murah hati (generosity), yaitu kemampuan untuk mengosongkan diri dari berbagai-bagai keinginan, sehingga Yesus dapat menjadi tujuan yang utama, di saat yang sama memberi diri untuk melayani Dia dan orang lain.

Do all the good you can,
By all the means you can,
In all the ways you can,
In all the places you can,
At all the times you can,
To all the people you can,
As long as ever you can.
(John Wesley)



3. Murah Hati dalam Pekerjaan Anda
Sebelum ia selesai berkata, maka datanglah Ribka, yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, isteri Nahor, saudara Abraham; buyungnya dibawanya di atas bahunya. Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik. Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: "Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu." Jawabnya: "Minumlah, tuan," maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: "Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum." Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu (Kej. 24:15-20)

Ribka adalah gadis yang tidak hanya cantik, tetapi murah hati. Saat hamba Abraham memintanya memberi minum, Ribka tidak hanya memberi minum orang tersebut, tetapi juga untuk unta-untanya. Bayangkan seorang gadis harus menimba air berulang kali dan membawa buyung (tempat air) yang berat untuk memberi minum unta, padahal eekor unta dapat minum hingga 100 liter per hari! Ribka melakukan pekerjaan itu dengan murah hati, yaitu memberi lebih dari yang diminta. Apa yang dilakukan Rebeka membuat ia menjadi isteri salah satu orang yang terkaya dan masuk dalam ikatan perjanjian dengan Allah.

Selain memberikan lebih dari yang diminta, murah hati di tempat kerja dapat berupa:
- Memperlakukan anak buah dengan “fair”.
- Memberikan upah yang layak, bahkan lebih dari rata-rata.
- Turut terlibat dalam program-program CSR (Company Social Responsibility), atau perusahaan turut menyumbang untuk membangun komunitas.


4. Murah Hati dalam Hubungan
Di Jacksonville Florida, seorang sukarelawan terlambat menelepon seorang ibu lansia yang tinggal sendirian. Biasanya, setiap pagi ia menelepon, tetapi hari itu dia sedikit kesiangan. Ibu tua itu akhirnya menelepon sang sukarelawan, “Kamu tidak menelepon saya pagi ini.” Sukarelawan itu menjawab, “Ya, saya baru saja mau menelepon.” Ibu itu menjawab, “Kalau begitu, saya tutup teleponnya sekarang, dan kamu telepon ke saya ya. Soalnya, kalau kamu tidak menelepon, hari ini telepon saya tidak akan berbunyi.” Hal-hal sederhana seperti menelepon seseorang yang kesepian, memberi dorongan, juga menggambarkan kemurahan hati seseorang. Selain itu, murah hati dapat pula:

- Berikan senyuman, bahkan kepada orang yang tidak Anda kenal. Senyuman sangat murah, tetapi terbukti menyembuhkan. Hari ini, berikan senyuman pada orang yang tidak Anda kenal. Mungkin itu satu-satunya sinar terang yang ia lihat sepanjang hari itu1
- Memaafkan orang lain dengan lapang dada, hilangkan kepahitan, dan tidak menggunakan insiden tersebut untuk kepentingan di masa mendatang.
- Kirimkan sms atau kartu pada orang yang Anda ketahui sedang dalam pergumulan atau kebutuhan. Beri tahu mereka bahwa Anda mengingat mereka dalam doa.

Murah hati dimulai dari keluarga kita. Bila kita tidak dapat bermurah hati dengan orang-orang yang dekat dengan kita, bagaimana dapat bermurah hati dengan orang lain? Bagaimana caranya:
- Mau berkorban demi kebaikan pasangan atau anak-anak.
- Memberikan yang terbaik bagi keluarga.
- Anak-anak yang sudah dewasa berikan dukungan keuangan dengan murah hati untuk orang tua yang sudah pensiun.
- Jangan pelit dalam memberikan pujian bagi isteri, anak-anak, atau keluarga yang lain dan teman-teman Anda.

Sebuah senyuman tidak ada biayanya, tetapi banyak gunanya.
Senyuman memperkaya yang menerima
tanpa membuat miskin yang memberi.
Senyuman hanya sesaat,
tetapi kenangan yang tercipta bertahan selamanya.
Tak ada orang kaya atau kuat yang dapat berkata aku dapat hidup tanpanya,
dan tak ada orang yang terlalu miskin yang tak diperkaya olehnya.
Tetapi sebuah senyuman tak dapat dibeli, diminta, dipinjam, atau dicuri,
karena hal itu tidak berharga bagi siapapun sampai diberikan.
Beberapa orang terlalu lelah memberimu sebuah senyuman.
Beri mereka senyummu, karena orang yang sangat membutuhkan senyuman
adalah mereka yang tak dapat memberi senyuman sedikitpun.
(Author Unknown)